December 17th, 2006 by enade
"Mencintai hingga terluka" merupakan terjemahan bebas dari "Love untill it hurts". Lengkapnya bisa dibaca di http://www.geocities.com/lauho08/love_until_it_hurts_by_mother_teresa.html
Btw, aku sendiri belum membacanya namun secara harafiah dari kutipan ini aku mencoba merefleksikan suatu peristiwa yang sederhana dan berdampak luar biasa, setidaknya bagi diriku ketika sebuah cinta menerpa diriku hingga aku tersimpuh dan tersedu.
Saat aku sedang limbung dan tak tahu arah aku selalu datang pada seseorang yang mencintaiku aku dengan tulus dan bersamanya aku merasa damai. Namun sering aku melupakan dia saat merasa tenang dan berada "di atas angin". Saat-saat itu lah aku sering keluar dari damai ini untuk mencoba meraih kedamaian lain (yang mungkin semu).
Minggu-minggu berat telah terlewati dan akhir-akhir ini adalah minggu-minggu ketika aku kembali untuk sebuah cinta yang lain, yang pernah diukir yang tidak sempurna. Cinta yang sempat menjanjikan padaku suatu damai yang melebihi yang kumiliki. Namun janji itu dibuat di atas ingkar, sehingga kemarin sampai sesaat yang lalu aku dibuat terseok-seok dan "terkapar".
Terima kasih pada Penulis Agung, hari ini dengan cara yang cukup keras ini, aku melihat dia, kekasihku yang sangat mengasihi aku merelakan hatinya terluka untuk sekedar mencoba memenuhi janji yang dibuat oleh "cinta yang lain". Dia mengasihiku sampai kasihnya padaku membuatnya terluka. Aku memang seorang pecundang dalam hal ini. Namun ini perlu ditulis di atas "prasasti" yang sering kuingkari sendiri (namun tidak untuk kali ini). Semoga ini menjadi tulisan terakhir mengenai hal ini … Semoga aku melangkah lebih maju ….
Dan semakin aku merenung, ternyata yang paling banyak "terluka" karena aku adalah orang-orang yang mencintai aku dan aku cintai. Sesaat yang lalu aku hanya bisa bersimpuh dan bergumam, "Tuhan ajarilah aku bahasa cintaMu"……
Salam damai,
Seorang "anak" yang belajar akan cinta dan mencintai
Posted in Uncategorized | 4 Comments »
December 16th, 2006 by enade
Embun pagi lupa (atau melupakan) janjinya untuk bersembunyi di sela dedaunan supaya matahari tidak membuatnya sirna ….
Aku tidak menemukan embun pagi hari ini …..
Kecewa…. itu pernah terungkap pada tulisan pertama dari sudut pandang orang ketiga. Saat ini aku menulis dari sudut pandang orang pertama.
Ketika janji itu menjadi sebuah harapan, suatu kekuatan extraordinary bisa muncul melebihi yang pernah terbayangkan. Dari hal ini ada satu hal yang membuatku berpikir mengenai "Iman, pengharapan dan kasih". Katanya kasih lah yang utama. Namun berkaca dari kenyataan bukankah harapan menimbulkan suatu kekuatan yang bisa melebihi kasih?
Ah bingung ah, jadi pusing mau nulis apa lagi karena kekuatan yang biasa ada pun sirna saat harapan sirna setelah janji diingkari. Yang ada tinggal kecewa. Sepertinya benar, kasih lah yang terutama. Meskipun dikecewakan, kasih sejati tidak akan pernah pudar ….. Dan karena aku percaya (bisa disetarakan dengan iman gak ya?), aku masih menunggu ……
Laan van Kronenburg 431, setelah pulang dari Kafe di Leidsplein dan membatalkan "puasa" menyentuh batang membara rasa menthol yang semenjak pergi mengikuti mimpi dengan angin tidak pernah disentuh.
Regards.
Posted in Uncategorized | 3 Comments »
November 28th, 2006 by enade
Sudah banyak yang komentar mengenai gondrong. Terima kasih. Btw, aku sudah sering dipanggil "mevrouw" disini karena (katanya) manis sih dan efek dari rambut panjang ……
Alasan gondrong:
1. Potong rambut mahal, diatas 10 euro (coba kalau dikurskan)
2. Aku belum pernah gondrong dan pengen mencoba.
3. Aku pernah berjanji untuk mencoba "tidak potong rambut" sebelum "matahari" menyapa "embun pagi" dengan disaksika oleh "tujuh bintang utara"
Merdeka!
Posted in Uncategorized | 5 Comments »
November 26th, 2006 by enade
Aku jadi bertanya, adakah orang yang tidak pernah kecewa sepanjang hidupnya. Aku kemarin mendapat sms yang berisi ungkapan kecewa dan kemudian aku mencoba untuk merefleksikan arti kata kecewa.
Yang muncul kemudian adalah kata "harapan". Aku tidak tahu apa hubungannya, namun kecewa biasanya muncul dari sebuah harapan ketika harapan itu tidak terpenuhi. Namun ketika sudah pasrah dan tidak berharap lagi, apakah "kecewa" menjadi relevan? Suatu pertanyaan yang menggelitik benakku karena membawaku kembali ke peristiwa sepuluh tahun silam. Peristiwa yang membawaku akan menjawab, "Ya, itu masih relevan." Maksudnya?
Meskipun sudah berkata "pasrah", tapi alam bawah sadar mungkin belum bisa "pasrah" sehingga kecewa bisa muncul akibat dari frustasi. Koq kebalik? Biasanya kan kecewa lalu frustasi? Lha kan sudah tidak punya harapan, apakah masih berhak kecewa? Ya masih dong, kecewa akibat frustasi ketika harapan itu hampir mustahil untuk terwujud.
Frustasi ketika masih ada kata "hampir", sehingga berbuntut ke "kecewa". "Hampir" berarti masih ada harapan… Masih ada harapan, dan sekali lagi masih ada harapan ….. namun hanya waktu yang menguji dan yang lulus uji biasanya adalah yang bisa bersabar.
Sayang mungkin aku bukan orang yang bisa bersabar. Jadi mohon maaf bagi yang pernah menjadi "korban" ketidaksabaranku dan mohon maaf sebelumnya bagi yang akan menjadi "korban" ketidaksabaranku.
Maaf… maaf… maaf…
*******
n.b.: Seri puisi tidak dilanjutkan untuk di re-publish di sini. Sekali lagi maaf.
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
November 20th, 2006 by enade
Malam ini bulan purnama, sayangku
Malam ini bulan purnama, sayangku
Teringatku saat pertama kau tunjukkan padaku
sosok mungil kelinci guna bisa mendekat ke wajahku
dan mencuri kecup di pipiku
kecupan pertama darimu
kecupan pertama yang membuatku merindu
Sore tadi ketika
kuserahkan karangan tentang jemari cahaya
kudapati matamu menyampaikan hasrat tanpa suara
ingin rasanya jatuh dipelukanmu dan memagut renjana
serta menarikmu dari alam nyata
menuju mimpi yang tiada
Saat kududuk di lorong itu
tempat aku menunggumu
di hari-hari yang lalu
kudapati kau tiada lagi memanggilku
hanya berlalu
dengan sedikit melemparkan tatapan rindu
dibalut sendu
Terasa embun mulai menggenangi mata ini
ketika kusadari hadirmu tiada lagi
sudah cukup sampai disini
semua sudah berakhir katamu, sudah selesai
Malam ini bulan purnama, sayangku
malam-malam yang kita lewati berdua selalu
saling memadu rindu, dahulu
Malam ini bulan purnama, sayangku
dan malam ini aku memadu rindu
dengan embun yang menggenangi mataku
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
November 20th, 2006 by enade
Setelah malam itu
Setelah malam itu
bibir ini tidak pernah melupakan
ujung jemari ini masih bisa merasakan
lidah ini masih terpaut
dan sensasi sapuan senyummu
masih membara di dada ini
apalagi saat mata ini terpejam
Namun sekarang aku memilih untuk tidak terpejam
saat engkau dengan lincah dan ceria menari di depan kelas kita
bercerita tentang tarian alam dan dendang kehidupan
namun sendu terpancar saat matamu beradu denganku
dan aku yakin kau masih mencintaiku
seperti aku pun tidak akan pernah melupakan cinta ini
dimuat pertama di http://www.ikastara.org/forums/showthread.php?t=2028
Posted in Uncategorized | No Comments »
November 15th, 2006 by enade
Antara harapan dan kenangan
Hari ini telah berlalu
minggu ini telah dilewati
embun itu sirna meninggalkan bau melati
dan aku masih bertemu kamu
yang bukan lagi kamu
Kamu yang senantiasa menyempatkan menemuiku di kala senggang
saat lorong-lorong itu sepi ketika hampir semua sudah pulang
hanya aku menunggumu selesai membalas sapaan para siswa yang riang
karena kerja hari ini telah usai dan beban telah berkurang
Kamu yang kemudian memanggilku ke sebuah ruang
untuk berbincang dan kadang berdendang
berbagi harapan dan angan
yang kemudian engkau mengantarku pulang
Lalu sebelum malam beranjak pagi
kamu meninggalkan kenangan sebelum beranjak pergi
kenangan berupa kecupan di bibir dan pipi kiri
Hari ini telah berlalu
minggu ini telah dilewati
embun itu sirna meninggalkan bau melati
dan aku masih bertemu kamu
yang bukan lagi kamu
karena engkau sudah memilih untuk memiliki seseorang
yang bukan aku
dimuat pertama di http://www.ikastara.org/forums/showthread.php?t=2028
Posted in Uncategorized | No Comments »
November 13th, 2006 by enade
Menyapa Embun Pagi
Jejak kaki ini berhenti di bukit harapan
perbatasan antara nestapa kenyataan
dan indahnya impian
Kotamu terlihat gemerlap pagi ini
Kota tempat kita berbagi impian dan kenyataan
Kota tempat kau pernah membisikkan harapan
yang dengan tegas selalu berakhir dengan,
“Ini hanya harapan, bukan janji, apalagi kepastian.”
Senandung sendu menyaput kabut biru
sepanjang jalan dari kotamu
dalam pilu aku mencari kerlip rumahmu
yang bisa kupandangi dalam merindu
“Pergilah”,
Kata terakhir yang terucap olehmu dalam lelah
masih terngiang di hati yang gelisah
dan menutupi semua pepatah
serta cerita-cerita masa indah
Aku telah pergi sekarang
dari hatimu yang lebih keras bagai karang
memang lautan mampu mengubah karang
namun aku bukan lautan, aku juga bukan gelombang
yang mampu mengikis tebing karang saat pasang
Kabut memilih untuk pergi
meninggalkan embun sendiri menghadapi mahatari
bersembunyi di daun-daun kering disekitar kaki ini
yang enggan diajak melangkah lagi
Bibir ini masih bergetar mencari hangat kecupanmu
yang dulu selalu menghampiri saat kau lelah dan rindu
biarlah ini menjadi kenangan sebuah masa lalu
yang tiada abadi karena akan berlalu
setelah harapanku dan hasratmu layu
Kau pernah berkata,
“andai matahari tidak muncul hari ini
embun ini masih akan menemani kita”
namun sepertinya kau sengaja melupakan
bahwa matahari pasti akan segera muncul
dan kisah sang embun pun pasti akan berakhir
Angin membisikkan kepadaku saat itu,
“embun hari ini akan jadi kenangan
dan embun esok hari masih berupa angan.”
dan aku memilih menjadi embun.
Engkau sudah memutuskan untuk memintaku pergi
Namun kakiku yang mendengar suara hati
masih enggan melangkah lagi
Kapan berakhir ini elegi?
Mungkin saat embun berubah jadi bidadari
dan matahari enggan bersinar lagi
dimuat pertama di http://www.ikastara.org/forums/showthread.php?t=2028
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
November 3rd, 2006 by enade
*******
Matahari masih bersinar sayang
Dan bulan pun jadi enggan tersenyum
Seperti dirimu yang selalu sirna oleh untaian sinar mentari
meskipun hakekat cintaku tak pernah hilang
memudar pun tidak
Namun sekali lagi,
matahari selalu lebih digdaya
membuatmu tak berdaya dan harus memilih menghilang
memudar untuk esok pagi
(jika mungkin) menjelma hadir kembali
Aku disini hanya bisa merenung
dan tertegun karena aku tidak punya kuasa
apapun padamu
Hadirmu merupakan anugerah
Sirnamu sudah layak dan sepantasnya
Aku hanya bisa menunggu sampai esok pagi
atau sampai ada yang bisa membawaku pergi
merenda cerita lain dalam sebuah elegi
dan kenangan akanmu akan tetap abadi
dimuat pertama kali di: http://www.ikastara.org/forums/showthread.php?t=1966
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
November 2nd, 2006 by enade
Nilai POC dah diumumkan, dapat enam. Batas lulusnya adalah 5,5. Hore, lulus… Puji Tuhan. Masih ada satu lagi yang belum diumumkan, semoga lulus juga.
Periode dua sudah dimulai dan suasana kuliah lebih "nyantai" karena lebih fokus. Minggu ini belajar toxicokinetics dan pengantar kimia komputasi (ketiduran dan dilihatin dosennya, jadi malu).
Eh, ada surat tagihan lagi, dibilang belum "bayar kuliah", jadi bingung nih. Aku kangen sama Farmasi USD. Wuaaaaaa
Merdeka,
Belum pernah kulihat tujuh bintang utara di Laan van Kronenburg, meski angin sudah mampu merasuk tulang dan daun-daun mulai berguguran
Posted in Uncategorized | No Comments »