Natal ke-7

Pagi ini aku terbangun dengan dua peristiwa penting: Menerima pesan tersirat tentang seorang yang pamitan dari hatiku dan menerima pesan dari "cahaya" yang menerpa wajahku, cahaya yang membisikkan sesuatu.

Hatiku masih berdebar saat akan ditinggal pergi. Namun dari bisikan sang "Cahaya" aku melihat bahwa ini mungkin suatu langkah menuju pendewasaan. Seorang "anak" yang mulai belajar untuk mengerti akan mencintai, bukan hanya "ingin dicintai". Sungguh suatu hal yang kontras namun tidak disadari.

Ketika kita (kita? aku kali? he..he..he…) mencintai (cinta dalam hal ini mungkin "eros"), ada dua hal halus yang seperti keluar dari diriku: ingin dimengerti bahwa aku mencintai dan ingin dibalas cintanya. Ketika cinta itu berbalas, sungguh senang. Lalu, mulai "ketagihan" rasa senang karena dimengerti dan cinta terbalas. Selanjutnya adalah melupakan saat-saat dan rasa senang "mencintai". Dan berakhir kembali ke fokus pada kesenangan diri. Dan ketika kembali ke fokus di diri sendiri yang tersisa adalah ratap tangis dan kertak gigi.

Hatiku seperti meronta saat ada yang pamitan untuk pergi dari hatiku. Namun aku sampaikan pada hatiku, "Cinta dan memiliki adalah hal yang berbeda. Biarlah dia bukan lagi jadi miliki kita, tapi dia tidak akan pernah bisa menghalangi kita mencintainya. Biarkan dia pergi dengan damai." Hatiku kemudian menjawab, "Namun dia sepertinya punya masalah karena dia menyampaikan  banyak hal yang tidak kita ketahui darinya." Lalu kujawab, "Wahai hatiku, kita sudah mengenalnya dengan cukup dalam, dia tinggal bersama kita sudah sukup lama, lebih dari dua belas purnama. Aku percaya dia akan bahagia. Dan dengan percaya adalah sebuah doa. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya." Lalu kudapati hatiku sedikit lebih tenang.

Terang sudah datang. Terang yang datang karena kasih Allah. Firman yang menjadi daging. Kasih dan rendah hati. Bersyukur dan sabar. Bertahan dalam kegelapan dalam arti lebih memilih dendam daripada kasih, lebih memilih tinggi hati daripada rendah hati, lebih memilih serakah daripada syukur, lebih memilih tidak sabar daripada sabar, atau datang dan tinggal dalam terang, dimana damai sejahtera senantiasa. Tinggal dalam terang dan hidup dalam kerajaan surga di dunia.

Aku masih belajar. Dan sering lebih memilih tinggal dalam gelap karena dalam gelap, perbuatan kita tidak kentara ….. ingin datang menuju terang namun cahaya terang kadang menyilaukan dan aku belum cukup rendah hati untuk menutup mata dan membiarkan hatiku yang tidak silau oleh cahaya itu berjalan menuntunku.

Selamat Natal 2006.

Dan kepada semua yang mengenal meine Sieben, sampaikan padanya bahwa tujuh selalu ada diantara enam dan delapan, dimana pun tujuh berada. Kepada Sieben: "Sekali lagi, selamat jalan terima kasih."

Laan van Kronenburg 431, 24 December 2006

Leave a Reply