Archive for December, 2006

Natal ke-7

Sunday, December 24th, 2006

Pagi ini aku terbangun dengan dua peristiwa penting: Menerima pesan tersirat tentang seorang yang pamitan dari hatiku dan menerima pesan dari "cahaya" yang menerpa wajahku, cahaya yang membisikkan sesuatu.

Hatiku masih berdebar saat akan ditinggal pergi. Namun dari bisikan sang "Cahaya" aku melihat bahwa ini mungkin suatu langkah menuju pendewasaan. Seorang "anak" yang mulai belajar untuk mengerti akan mencintai, bukan hanya "ingin dicintai". Sungguh suatu hal yang kontras namun tidak disadari.

Ketika kita (kita? aku kali? he..he..he…) mencintai (cinta dalam hal ini mungkin "eros"), ada dua hal halus yang seperti keluar dari diriku: ingin dimengerti bahwa aku mencintai dan ingin dibalas cintanya. Ketika cinta itu berbalas, sungguh senang. Lalu, mulai "ketagihan" rasa senang karena dimengerti dan cinta terbalas. Selanjutnya adalah melupakan saat-saat dan rasa senang "mencintai". Dan berakhir kembali ke fokus pada kesenangan diri. Dan ketika kembali ke fokus di diri sendiri yang tersisa adalah ratap tangis dan kertak gigi.

Hatiku seperti meronta saat ada yang pamitan untuk pergi dari hatiku. Namun aku sampaikan pada hatiku, "Cinta dan memiliki adalah hal yang berbeda. Biarlah dia bukan lagi jadi miliki kita, tapi dia tidak akan pernah bisa menghalangi kita mencintainya. Biarkan dia pergi dengan damai." Hatiku kemudian menjawab, "Namun dia sepertinya punya masalah karena dia menyampaikan  banyak hal yang tidak kita ketahui darinya." Lalu kujawab, "Wahai hatiku, kita sudah mengenalnya dengan cukup dalam, dia tinggal bersama kita sudah sukup lama, lebih dari dua belas purnama. Aku percaya dia akan bahagia. Dan dengan percaya adalah sebuah doa. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya." Lalu kudapati hatiku sedikit lebih tenang.

Terang sudah datang. Terang yang datang karena kasih Allah. Firman yang menjadi daging. Kasih dan rendah hati. Bersyukur dan sabar. Bertahan dalam kegelapan dalam arti lebih memilih dendam daripada kasih, lebih memilih tinggi hati daripada rendah hati, lebih memilih serakah daripada syukur, lebih memilih tidak sabar daripada sabar, atau datang dan tinggal dalam terang, dimana damai sejahtera senantiasa. Tinggal dalam terang dan hidup dalam kerajaan surga di dunia.

Aku masih belajar. Dan sering lebih memilih tinggal dalam gelap karena dalam gelap, perbuatan kita tidak kentara ….. ingin datang menuju terang namun cahaya terang kadang menyilaukan dan aku belum cukup rendah hati untuk menutup mata dan membiarkan hatiku yang tidak silau oleh cahaya itu berjalan menuntunku.

Selamat Natal 2006.

Dan kepada semua yang mengenal meine Sieben, sampaikan padanya bahwa tujuh selalu ada diantara enam dan delapan, dimana pun tujuh berada. Kepada Sieben: "Sekali lagi, selamat jalan terima kasih."

Laan van Kronenburg 431, 24 December 2006

Mencintai hingga terluka (refleksi seorang pecundang)

Sunday, December 17th, 2006

"Mencintai hingga terluka" merupakan terjemahan bebas dari "Love untill it hurts". Lengkapnya bisa dibaca di http://www.geocities.com/lauho08/love_until_it_hurts_by_mother_teresa.html

Btw, aku sendiri belum membacanya namun secara harafiah dari kutipan ini aku mencoba merefleksikan suatu peristiwa yang sederhana dan berdampak luar biasa, setidaknya bagi diriku ketika sebuah cinta menerpa diriku hingga aku tersimpuh dan tersedu.

Saat aku sedang limbung dan tak tahu arah aku selalu datang pada seseorang yang mencintaiku aku dengan tulus dan bersamanya aku merasa damai. Namun sering aku melupakan dia saat merasa tenang dan berada "di atas angin". Saat-saat itu lah aku sering keluar dari damai ini untuk mencoba meraih kedamaian lain (yang mungkin semu).

Minggu-minggu berat telah terlewati dan akhir-akhir ini adalah minggu-minggu ketika aku kembali untuk sebuah cinta yang lain, yang pernah diukir yang tidak sempurna. Cinta yang sempat menjanjikan padaku suatu damai yang melebihi yang kumiliki. Namun janji itu dibuat di atas ingkar, sehingga kemarin sampai sesaat yang lalu aku dibuat terseok-seok dan "terkapar".

Terima kasih pada Penulis Agung, hari ini dengan cara yang cukup keras ini, aku melihat dia, kekasihku yang sangat mengasihi aku merelakan hatinya terluka untuk sekedar mencoba memenuhi janji yang dibuat oleh "cinta yang lain". Dia mengasihiku sampai kasihnya padaku membuatnya terluka. Aku memang seorang pecundang dalam hal ini. Namun ini perlu ditulis di atas "prasasti" yang sering kuingkari sendiri (namun tidak untuk kali ini). Semoga ini menjadi tulisan terakhir mengenai hal ini … Semoga aku melangkah lebih maju ….

Dan semakin aku merenung, ternyata yang paling banyak "terluka" karena aku adalah orang-orang yang mencintai aku dan aku cintai. Sesaat yang lalu aku hanya bisa bersimpuh dan bergumam, "Tuhan ajarilah aku bahasa cintaMu"……

Salam damai,

Seorang "anak" yang belajar akan cinta dan mencintai

Kecewa … (2)

Saturday, December 16th, 2006

Embun pagi lupa (atau melupakan) janjinya untuk bersembunyi di sela dedaunan supaya matahari tidak membuatnya sirna ….

Aku tidak menemukan embun pagi hari ini …..

Kecewa…. itu pernah terungkap pada tulisan pertama dari sudut pandang orang ketiga. Saat ini aku menulis dari sudut pandang orang pertama.

Ketika janji itu menjadi sebuah harapan, suatu kekuatan extraordinary bisa muncul melebihi yang pernah terbayangkan. Dari hal ini ada satu hal yang membuatku berpikir mengenai "Iman, pengharapan dan kasih". Katanya kasih lah yang utama. Namun berkaca dari kenyataan bukankah harapan menimbulkan suatu kekuatan yang bisa melebihi kasih?

Ah bingung ah, jadi pusing mau nulis apa lagi karena kekuatan yang biasa ada pun sirna saat harapan sirna setelah janji diingkari. Yang ada tinggal kecewa. Sepertinya benar, kasih lah yang terutama. Meskipun dikecewakan, kasih sejati tidak akan pernah pudar ….. Dan karena aku percaya (bisa disetarakan dengan iman gak ya?), aku masih menunggu ……

Laan van Kronenburg 431, setelah pulang dari Kafe di Leidsplein dan membatalkan "puasa" menyentuh batang membara rasa menthol yang semenjak pergi mengikuti mimpi dengan angin tidak pernah disentuh.

Regards.