Archive for November, 2006

Gondrong?

Tuesday, November 28th, 2006

Sudah banyak yang komentar mengenai gondrong. Terima kasih. Btw, aku sudah sering dipanggil "mevrouw" disini karena (katanya) manis sih dan efek dari rambut panjang ……

Alasan gondrong:

1. Potong rambut mahal, diatas 10 euro (coba kalau dikurskan)

2. Aku belum pernah gondrong dan pengen mencoba.

3. Aku pernah berjanji untuk mencoba "tidak potong rambut" sebelum "matahari" menyapa "embun pagi" dengan disaksika oleh "tujuh bintang utara"

Merdeka!

Kecewa …

Sunday, November 26th, 2006

Aku jadi bertanya, adakah orang yang tidak pernah kecewa sepanjang hidupnya. Aku kemarin mendapat sms yang berisi ungkapan kecewa dan kemudian aku mencoba untuk merefleksikan arti kata kecewa.

Yang muncul kemudian adalah kata "harapan". Aku tidak tahu apa hubungannya, namun kecewa biasanya muncul dari sebuah harapan ketika harapan itu tidak terpenuhi. Namun ketika sudah pasrah dan tidak berharap lagi, apakah "kecewa" menjadi relevan? Suatu pertanyaan yang menggelitik benakku karena membawaku kembali ke peristiwa sepuluh tahun silam. Peristiwa yang membawaku akan menjawab, "Ya, itu masih relevan." Maksudnya?

Meskipun sudah berkata "pasrah", tapi alam bawah sadar mungkin belum bisa "pasrah" sehingga kecewa bisa muncul akibat dari frustasi. Koq kebalik? Biasanya kan kecewa lalu frustasi? Lha kan sudah tidak punya harapan, apakah masih berhak kecewa? Ya masih dong, kecewa akibat frustasi ketika harapan itu hampir mustahil untuk terwujud.

Frustasi ketika masih ada kata "hampir", sehingga berbuntut ke "kecewa". "Hampir" berarti masih ada harapan… Masih ada harapan, dan sekali lagi masih ada harapan ….. namun hanya waktu yang menguji dan yang lulus uji biasanya adalah yang bisa bersabar.

Sayang mungkin aku bukan orang yang bisa bersabar. Jadi mohon maaf bagi yang pernah menjadi "korban" ketidaksabaranku dan mohon maaf sebelumnya bagi yang akan menjadi "korban" ketidaksabaranku.

Maaf… maaf… maaf…

*******

n.b.: Seri puisi tidak dilanjutkan untuk di re-publish di sini. Sekali lagi maaf.

Puisi Ke-4 dari 7 puisi

Monday, November 20th, 2006
Malam ini bulan purnama, sayangku

Malam ini bulan purnama, sayangku
Teringatku saat pertama kau tunjukkan padaku
sosok mungil kelinci guna bisa mendekat ke wajahku
dan mencuri kecup di pipiku
kecupan pertama darimu
kecupan pertama yang membuatku merindu

Sore tadi ketika
kuserahkan karangan tentang jemari cahaya
kudapati matamu menyampaikan hasrat tanpa suara
ingin rasanya jatuh dipelukanmu dan memagut renjana
serta menarikmu dari alam nyata
menuju mimpi yang tiada

Saat kududuk di lorong itu
tempat aku menunggumu
di hari-hari yang lalu
kudapati kau tiada lagi memanggilku
hanya berlalu
dengan sedikit melemparkan tatapan rindu
dibalut sendu

Terasa embun mulai menggenangi mata ini
ketika kusadari hadirmu tiada lagi
sudah cukup sampai disini
semua sudah berakhir katamu, sudah selesai

Malam ini bulan purnama, sayangku
malam-malam yang kita lewati berdua selalu
saling memadu rindu, dahulu

Malam ini bulan purnama, sayangku
dan malam ini aku memadu rindu
dengan embun yang menggenangi mataku

Puisi Ketiga dari tujuh puisi

Monday, November 20th, 2006
Setelah malam itu

Setelah malam itu
bibir ini tidak pernah melupakan
ujung jemari ini masih bisa merasakan
lidah ini masih terpaut
dan sensasi sapuan senyummu
masih membara di dada ini
apalagi saat mata ini terpejam

Namun sekarang aku memilih untuk tidak terpejam
saat engkau dengan lincah dan ceria menari di depan kelas kita
bercerita tentang tarian alam dan dendang kehidupan
namun sendu terpancar saat matamu beradu denganku
dan aku yakin kau masih mencintaiku
seperti aku pun tidak akan pernah melupakan cinta ini

dimuat pertama di http://www.ikastara.org/forums/showthread.php?t=2028

Puisi Kedua dari tujuh puisi

Wednesday, November 15th, 2006
Antara harapan dan kenangan

Hari ini telah berlalu
minggu ini telah dilewati
embun itu sirna meninggalkan bau melati
dan aku masih bertemu kamu
yang bukan lagi kamu

Kamu yang senantiasa menyempatkan menemuiku di kala senggang
saat lorong-lorong itu sepi ketika hampir semua sudah pulang
hanya aku menunggumu selesai membalas sapaan para siswa yang riang
karena kerja hari ini telah usai dan beban telah berkurang

Kamu yang kemudian memanggilku ke sebuah ruang
untuk berbincang dan kadang berdendang
berbagi harapan dan angan
yang kemudian engkau mengantarku pulang

Lalu sebelum malam beranjak pagi
kamu meninggalkan kenangan sebelum beranjak pergi
kenangan berupa kecupan di bibir dan pipi kiri

Hari ini telah berlalu
minggu ini telah dilewati
embun itu sirna meninggalkan bau melati
dan aku masih bertemu kamu
yang bukan lagi kamu
karena engkau sudah memilih untuk memiliki seseorang
yang bukan aku

dimuat pertama di http://www.ikastara.org/forums/showthread.php?t=2028

Puisi pertama dari tujuh puisi

Monday, November 13th, 2006

Menyapa Embun Pagi

Jejak kaki ini berhenti di bukit harapan
perbatasan antara nestapa kenyataan
dan indahnya impian

Kotamu terlihat gemerlap pagi ini
Kota tempat kita berbagi impian dan kenyataan
Kota tempat kau pernah membisikkan harapan
yang dengan tegas selalu berakhir dengan,
“Ini hanya harapan, bukan janji, apalagi kepastian.”

Senandung sendu menyaput kabut biru
sepanjang jalan dari kotamu
dalam pilu aku mencari kerlip rumahmu
yang bisa kupandangi dalam merindu

“Pergilah”,
Kata terakhir yang terucap olehmu dalam lelah
masih terngiang di hati yang gelisah
dan menutupi semua pepatah
serta cerita-cerita masa indah

Aku telah pergi sekarang
dari hatimu yang lebih keras bagai karang
memang lautan mampu mengubah karang
namun aku bukan lautan, aku juga bukan gelombang
yang mampu mengikis tebing karang saat pasang

Kabut memilih untuk pergi
meninggalkan embun sendiri menghadapi mahatari
bersembunyi di daun-daun kering disekitar kaki ini
yang enggan diajak melangkah lagi

Bibir ini masih bergetar mencari hangat kecupanmu
yang dulu selalu menghampiri saat kau lelah dan rindu
biarlah ini menjadi kenangan sebuah masa lalu
yang tiada abadi karena akan berlalu
setelah harapanku dan hasratmu layu

Kau pernah berkata,
“andai matahari tidak muncul hari ini
embun ini masih akan menemani kita”
namun sepertinya kau sengaja melupakan
bahwa matahari pasti akan segera muncul
dan kisah sang embun pun pasti akan berakhir

Angin membisikkan kepadaku saat itu,
“embun hari ini akan jadi kenangan
dan embun esok hari masih berupa angan.”
dan aku memilih menjadi embun.

Engkau sudah memutuskan untuk memintaku pergi
Namun kakiku yang mendengar suara hati
masih enggan melangkah lagi
Kapan berakhir ini elegi?
Mungkin saat embun berubah jadi bidadari
dan matahari enggan bersinar lagi

dimuat pertama di http://www.ikastara.org/forums/showthread.php?t=2028

Dewi Embun

Friday, November 3rd, 2006

*******

Matahari masih bersinar sayang
Dan bulan pun jadi enggan tersenyum

Seperti dirimu yang selalu sirna oleh untaian sinar mentari
meskipun hakekat cintaku tak pernah hilang
memudar pun tidak

Namun sekali lagi,
matahari selalu lebih digdaya
membuatmu tak berdaya dan harus memilih menghilang
memudar untuk esok pagi
(jika mungkin) menjelma hadir kembali

Aku disini hanya bisa merenung
dan tertegun karena aku tidak punya kuasa
apapun padamu

Hadirmu merupakan anugerah
Sirnamu sudah layak dan sepantasnya

Aku hanya bisa menunggu sampai esok pagi
atau sampai ada yang bisa membawaku pergi
merenda cerita lain dalam sebuah elegi
dan kenangan akanmu akan tetap abadi

dimuat pertama kali di: http://www.ikastara.org/forums/showthread.php?t=1966

Lulus euy …

Thursday, November 2nd, 2006

Nilai POC dah diumumkan, dapat enam. Batas lulusnya adalah 5,5. Hore, lulus… Puji Tuhan. Masih ada satu lagi yang belum diumumkan, semoga lulus juga.

Periode dua sudah dimulai dan suasana kuliah lebih "nyantai" karena lebih fokus. Minggu ini belajar toxicokinetics dan pengantar kimia komputasi (ketiduran dan dilihatin dosennya, jadi malu).

Eh, ada surat tagihan lagi, dibilang belum "bayar kuliah", jadi bingung nih. Aku kangen sama Farmasi USD. Wuaaaaaa

Merdeka,

Belum pernah kulihat tujuh bintang utara di Laan van Kronenburg, meski angin sudah mampu merasuk tulang dan daun-daun mulai berguguran