Hari ini sungguh menyenangkan. Kuliah dengan semangat dan dilanjutkan simposium sampai malam (yang diikuti dengan sering menguap lebar) dan ditutup dengan minum anggur bareng peserta simposium.
Saat ini sepertinya aku sedang agak "melayang". Apakah ini efek anggur ya? Oh ya, ada yang menarik dalam cerita di kuliah tadi. Penemuan obat dalam industri hampir merupakan hal yang mekanik. Sintesis dan hal yang berbau "kimia" dan uji aktivitas awal (skrining) dilakukan secara mekanik menggunakan robot. Satu hari bisa puluhan hingga ratusan ribu molekul disintesis, dicek sifat fisikokimia dan diuji aktivitasnya. Sehingga diketahui semua data yang dapat digunakan sang peneliti (manusia, bukan robot) untuk memilih obat yang akan dikembangkan. Hal ini menggeser penelitian lebih fokus kepada penemuan target obat, yang "belum" dapat dilakukan secara mekanik.
Saat mendengar hal itu, aku terus bertanya dalam hati, "Apa yang bisa dilakukan Indonesia untuk berpartisipasi?" Pemilihan kata partisipasi dalam hal ini cenderung bahasa kooperatif, sehingga sengaja dihindari kata "bersaing".
Saat ini yang muncul dalam benakku adalah: Pasar. Jadi kita ‘hanya" sebagai pasar? Ternyata tidak juga, karena Indonesia bukan "pasar obat" yang baik. Konsumsi "obat modern" kita sangat rendah dibanding negara lain, bahkan Singapura (katanya seh ….). Namun pemikiran ini membawaku ke tempat lain: "herbal medicines". Akankah kita dapat berpartisipasi dengan menguasai dan mengeksplorasi bidang ini? Kelemahan dibanding obat modern yang mungkin disintesis oleh robot adalah selektivitas. Obat herbal tidak memiliki kemampuan menyembuhkan dengan cepat dan sering tidak selektif karena minimnya informasi yang dimiliki, baik isi maupun interaksi dengan reseptor dsb…dsb yang terkait dengan selektivitas. Namun kelemahan ini dapat diubah menjadi kekuatan ketika fokus pengembangan obat herbal bukan pada penyembuhan tapi pencegahan dan pemeliharaan.
Kemudian aku teringat pada seorang Guruku yang menderita sakit hati (bukan sakit "hati"). Obat modern yang diberikan oleh dokter tidak sanggup menurunkan indikasi penyakit apalagi menyembuhkan. Lalu beliau teringat pada penelitiannya tentang kurkumin dan mulai mengkonsumsi "sampah" (karena ada pakar yang menyebut ini "sampah) yang mengandung kurkumin. Alhasil kondisinya membaik dan normal kembali.
Lalu apa yang bisa kita lakukan: buka kembali "serat-serat" karya pujangga kuno (bukan serat dari Vegeta dll lho) dan cari apakah ada tanaman berkhasiat di dalamnya; cari literatur lain dan mengumpulkan database yang sudah ada; dilakukan formulasi dengan data-data empiris yang tersedia mengenai cara penggunaan dsb… dsb… untuk menentukan dosis yang sesuai dan sebagai upaya untuk membuat obat herbal menjadi "minimal" enak dikonsumsi (jika ternyata tidak berkhasiat) dan yang paling penting: uji keamanan dan jika aman biarkan pasar yang menentukan apakah ini berkhasiat atau tidak. Karena untuk mendapatkan bukti ini butuh waktu yang pasti lama …….
Mungkin gak ya ….. Suatu saat nanti di Indonesia dan belahan dunia lain tersedia minuman dan makanan dengan komposisi obat herbal untuk orang dengan lifestyle tertentu. Misal: pekerja keras dari pagi hingga malam sehingga makanan dan minumannya sudah mencegah dia dari kelelahan, stress, penyakit hati, kanker dll ….. Kalau tidak salah ini merupakan kerja interdisipliner yang menarik minimal oleh teman-teman di farmakologi-toksikologi untuk memberi bukti awal bahwa campuran "sampah" yang berkhasiat namun tidak toksik; teman-teman di formulasi untuk mengubah "sampah" menjadi sediaan yang (minimal) enak; teman-teman di farmasi klinik-komunitas untuk menyediakan dan melakukan penyelidikan sehingga "sampah enak" tadi memiliki evidence untuk digunakan sebagai pencegahan maupun perlindungan/pemulihan. Kemana biologi dan kimia? Peran utama adalah membantu setiap tahapan proses tersebut standart secara biologi maupun kimia selain membantu dalam eksplorasi. Apakah perlu sintesis senyawa berpotensi sebagi obat baru? Emmmmmmmm …….. sulit dijawab, karena itu bisa digantikan robot, lebih baik mengalihkan perhatian ke tempat lain. Tapi sebagai hobi atau pendidikan bolehlah ….
Semoga suatu saat kalau ke restoran, pesan makanannya bisa demikian: "Saya minta sop kepiting sebagai pembuka dengan kuah anti kolesterol, sate ayam jangan lupa bumbu kacangnya yang antioksidan, minumnya jus apel anti obesitas …."
Ah …. malam semakin larut. Aku mau tidur dulu untuk bangun pagi supaya bisa baca materi kuliah sebelum berangkat ke kelas besok.