“Metode Penelitian” dalam Cinta
Sedikit renungan tentang manfaat "metode penelitian" dalam cinta.
Seringkali ketika orang jatuh cinta maka yang digunakan adalah "rasa" dan kadang "menjadi bodoh". Hal ini, katanya National Geography edisi Indonesia bulan Februari sih dibahas cukup tuntas. Pertanyaan yang timbul berikutnya adalah: ketika kita jatuh cinta, mampukah menggunakan sedikit rasio dan "pengamatan empirik" dalam mendapatkan cinta seseorang yang kepadanya, kita "jatuhi cinta"?
Jika jawabannya: mampu, maka langkah yang disarankan berikutnya adalah seperti tahapan-tahapan metode penelitian: dedukto-hipotetiko-verifikatif.
Pertama: Perumusan masalah adalah sebagai berikut: apakah dia mau jadi kekasihmu? Lakukan sedikit percobaan pendahuluan dan studi literatur. Yang harus bisa dijawab adalah: kesukaan dia, referensi mantan pacar dan mengapa putus, dan sedikit percobaan seperti jalan sebentar, ngajak ngobrol sebentar dll. Tahap ini paling penting dan disarankan cukup lama dan mendalam. Karena kadang berkenalan saja "sulit" bagaimana mau "percobaan pendahuluan dan studi literatur".
Kedua: berdasarkan langkah pertama tarik hipotesis dari perumusan masalah "apakah dia mau jadi kekasihmu?" Menurut petunjuk dari seseorang yang aku lupa namanya jika hipotesisnya adalah "tidak" maka dia "mungkin" jadi kekasihmu, jika "mungkin" maka dia "akan" jadi kekasihmu, jika "ya" maka dia "pasti" jadi kekasihmu.
Ketiga: verifikasi! Ini adalah langkah penting dan butuh keberanian. Apa artinya tahap 1 dan 2 kalau tidak punya nyali disini? Seperti halnya penelitian, verifikasi butuh keberanian untuk menerima hasil verifikasi dan kejujuran untuk mengungkapkannya baik bagi diri sendiri maupun publik. Caranya: tanyakan aja dan mintalah dia untuk menjadi kekasih dengan tahapan "bertanya dan meminta" sesuai strategi yang disusun berdasarkan analisis pada tahap pertama!
Namun jika ini dianggap tidak masuk akal, berarti betul pernyataan bahwa orang jatuh cinta akan "menjadi bodoh".
December 16th, 2008 at 6:50 am
Funny foto here