Archive for March, 2006

Tempat yang belum pernah kudatangi

Tuesday, March 28th, 2006

Kemarin ketika aku menginjakkan kaki ke tempat di mana aku setiap hari "biasanya" ada, aku menemukan sesuatu yang tidak ‘biasa" dan membuatku merasa "luar biasa".

Sebuah amplop mungil merah jambu terletak di meja kerja dan perlahan-lahan kubuka dan kudapati ada secarik kertas dan mulai kubaca:

"En, besok kamis libur kan? Jalan yuk ke tempat yang belum pernah kau datangi. Miss you so much!"

Saat itu aku terus sedikit merenung (atau "termenung", suatu kata lain dari: melamun): Tempat yang belum pernah kudatangi? Anganku membawa menuju tempat-tempat yang ingin kudatangi bersama si penulis surat, misal: Kraton Boko saat matahari hampir tenggelam dan tidak mendung, dll (bukan tempatya yang penting, tapi suasana romantisnya yang dicari…..)

Namun tiba-tiba aku diingatkan oleh suara berdentang di laboratorium di sebelah ruang kerjaku. Spontan aku keluar dan menemukan pecahan gelas beker yang  berserakan dan sambil tersenyum kusampaikan kepada "yang bertanggung jawab", "Hati-hati, gelas bisa dibeli namun kalau ceroboh bahaya lain di lab bisa membuatmu celaka". Lalu aku masuk kantor lagi dan sedikit terpana dengan kata-kataku tadi: hati.

Aku baru sadar bahwa ada tempat yang mungkin belum pernah kudatangi bersama si penulis surat: hatiku dan hatinya.

“Metode Penelitian” dalam Cinta

Monday, March 27th, 2006

Sedikit renungan tentang manfaat "metode penelitian" dalam cinta.

Seringkali ketika orang jatuh cinta maka yang digunakan adalah "rasa" dan kadang "menjadi bodoh". Hal ini, katanya National Geography edisi Indonesia bulan Februari sih dibahas cukup tuntas. Pertanyaan yang timbul berikutnya adalah: ketika kita jatuh cinta, mampukah menggunakan sedikit rasio dan "pengamatan empirik" dalam mendapatkan cinta seseorang yang kepadanya, kita "jatuhi cinta"?

Jika jawabannya: mampu, maka langkah yang disarankan berikutnya adalah seperti tahapan-tahapan metode penelitian: dedukto-hipotetiko-verifikatif.

Pertama: Perumusan masalah adalah sebagai berikut: apakah dia mau jadi kekasihmu? Lakukan sedikit percobaan pendahuluan dan studi literatur. Yang harus bisa dijawab adalah: kesukaan dia, referensi mantan pacar dan mengapa putus, dan sedikit percobaan seperti jalan sebentar, ngajak ngobrol sebentar dll. Tahap ini paling penting dan disarankan cukup lama dan mendalam. Karena kadang berkenalan saja "sulit" bagaimana mau "percobaan pendahuluan dan studi literatur".

Kedua: berdasarkan langkah pertama tarik hipotesis dari perumusan masalah "apakah dia mau jadi kekasihmu?" Menurut petunjuk dari seseorang yang aku lupa namanya jika hipotesisnya adalah "tidak" maka dia "mungkin" jadi kekasihmu, jika "mungkin" maka dia "akan" jadi kekasihmu, jika "ya" maka dia "pasti" jadi kekasihmu.

Ketiga: verifikasi! Ini adalah langkah penting dan butuh keberanian. Apa artinya tahap 1 dan 2 kalau tidak punya nyali disini? Seperti halnya penelitian, verifikasi butuh keberanian untuk menerima hasil verifikasi dan kejujuran untuk mengungkapkannya baik bagi diri sendiri maupun publik. Caranya: tanyakan aja dan mintalah dia untuk menjadi kekasih dengan tahapan "bertanya dan meminta" sesuai strategi yang disusun berdasarkan analisis pada tahap pertama!

Namun jika ini dianggap tidak masuk akal, berarti betul pernyataan bahwa orang jatuh cinta akan "menjadi bodoh".